Sore nan cerah pertengahan Februari 2021, menyambut kami saat melewati Patung Kruyt dan Adriani, tanda telah memasuki Kota Tentena, Sulawesi Tengah. Kami singgah sebentar di salah satu warung kopi di tepi outlet Danau Poso, yang alirannya bermuara ke utara Kota Poso.

Kehangatan sore menemani kami setelah perjalanan hampir 250 kilometer dari Palu. Rehat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menyusuri sisi utara Danau Poso yang tenang, dengan sawah-sawahnya yang mempesona. Akhirnya, kami memasuki jalan berliku dan menanjak, menuju Lembah Bada yang masyhur.

Setelah dua jam perjalanan, dari kejauhan tampak dataran Lembah Bada terhampar. Sawah yang sebagiannya telah menguning terhampar luas, berpadu bukit-bukit berhutan lebat di sisi utaranya.

Lembah Bada merupakan satu dari empat dataran tinggi penting di lanskap Lore Lindu, selain Napu, Besoa, dan Lindu. Lanskap Lore Lindu sendiri merupakan sebuah cagar biosfer.

Konsep ini digagas UNESCO sejak 1971, yaitu suatu kawasan yang dikelola dengan tujuan mengharmonikan antara kebutuhan konservasi keanekaragaman hayati, sosial, dan ekonomi yang berkelanjutan. Cagar biosfer yang ideal akan menguji dan mendemonstrasikan pendekatan-pendekatan yang mengarah pada pembangunan berkelanjutan pada tingkat regional.

Saat ini, Indonesia memiliki 19 cagar biosfer. Cagar Biosfer Lore Lindu adalah satu dari empat cagar biosfer pertama di Indonesia, yang ditetapkan sejak 1977. Sedangkan Taman Nasional [TN] Lore Lindu adalah zona inti cagar biosfer ini.

Membangun kebun serupa hutan

Keesokan pagi, kami bertemu Ibu Ruli Labulu [47], Camat Lore Barat, di Lengkeka. Sambutan hangat dan ramah menemani perbincangan kami terkait kegiatan Forest Programme [FP] III Sulawesi di enam desa di kecamatan ini.

Camat berharap, pengembangan masyarakat dalam program apapun harus bervisi berkelanjutan. Artinya, esensi pembangunan, pengembangan, dan perlindungan hutan di Lembah Bada harus terus berjalan, walaupun program yang dijalankan nanti telah selesai di tahun-tahun mendatang.

Forest Programme III Sulawesi merupakan program yang dijalankan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan [KLHK] dengan bantuan dana hibah dari Pemerintah Jerman. Tujuannya, mewujudkan pengelolaan lanskap Lore Lindu secara kolaboratif dan terpadu, baik dalam rangka konservasi keanekaragaman hayati maupun pengelolaan daerah aliran sungai. Landskap Lore Lindu adalah kawasan TN Lore Lindu beserta area penyangganya, salah satunya adalah Lembah Bada ini.

Lembah Bada [700-800 mpdl] merupakan dataran yang berada di sisi selatan TN Lore Lindu. Wilayahnya dikelilingi pegunungan berhutan lebat, dan menjadi salah satu daerah tangkapan air terpenting bagi Daerah Aliran Sungai [DAS] Lariang, yang berhulu di Sulawesi Barat. Kelestarian taman nasional dan daerah penyangganya sangat penting dalam menunjang dan menyelamatkan kehidupan masyarakat di sepanjang DAS Lariang.

Kami pun mengunjungi kebun bibit desa [KBD] yang dikelola Kelompok Tani Hutan Molalawa di Desa Lengkeka, tak jauh dari kantor Camat. Sejak 2020, Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung [BPDASHL] Palu-Poso, telah mengembangkan skema agroforestry untuk kelompok Molalawa ini. Termasuk, pengembangan KBD. Sampai saat ini, telah lebih 30 desa dan puluhan kelompok agroforestry dikembangkan di desa-desa lainnya, di sekitar kawasan TN Lore Lindu.

Kalilo Kawewo [48], ketua kelompok, menyambut hangat kami. Dia bersemangat menjelaskan jenis-jenis bibit yang telah dikembangkan, kegiatan penanaman yang tengah berlangsung, serta ketersediaan pupuk organik untuk penanaman.

“Kami membuat pupuk kompos sendiri dengan bahan dasar kotoran ternak dan hijauan dari lingkungan sekitar,” terangnya. Di sebelahnya, terhampar menghijau segar bibit-bibit jati putih [Gmelina arborea], kemiri [Aleurites moluccanus], alpukat [Persea Americana], dan coklat [Theobroma cacao], yang semuanya hampir siap tanam.

Skema agroforestry, dikembangkan di kebun masyarakat yang berada di tanah milik [areal penggunaan lain/APL]. Tiap anggota mengembangkan lahan sekitar satu hektar. Sistem agroforestry atau wanatani, merupakan model penggunaan lahan yang menggabungkan tanaman pertanian musiman dan pohon. Jenisnya, penghasil kayu maupun non-kayu.

Tanaman pertanian sangat diharapkan menjadi sumber penghasilan utama keluarga pemilik lahan. Sementara tanaman kayu yang beragam, jika digenerasikan dengan pola tanam yang baik, kayu maupun buahnya dapat dipanen di masa mendatang.

Pola tanam agroforestry diharapkan dapat menciptakan kebun serupa hutan secara fungsi, baik dalam hal menjaga kelestarian biodiversitas maupun penguatan DAS, sehingga dapat berkontribusi mengurangi risiko bencana alam.

Menghidupkan kembali tradisi dan potensi desa

Desa Tuare adalah salah satu desa tertua di Lembah Bada, permukiman paling barat di Lore Barat. Dari ibu kota kecamatan di Lengkeka, kami menggunakan mobil menelusuri jalan sejauh 8,5 kilometer menuju pusat desa. Jalan cukup baik walaupun bukan hotmix. Sepanjang perjalanan, di sisi kiri terlihat Sungai Lariang deras mengalir, sungai terpanjang di Sulawesi. Sementara di bagian kanan, tebing dan hamparan kebun silih berganti terlihat, dan sesekali tampak latar hutan-hutan hijau membiru nan megah.

Kami mengunjungi area Tambaga, sebuah tempat di tepi Sungai Lariang, sekitar tiga kilometer lagi dari desa. Di sinilah Leonard Baturu [39] beserta masyarakat Tuare, bahu membahu menghidupkan kembali sebuah kolam pemancingan tradisional desa yang telah lama terbengkalai.

Leonard menjabat Ketua Lembaga Pengelola Konservasi Desa [LPKD] Tuare. Lembaga ini bertujuan menjadi payung dan penggerak utama dalam setiap usaha konservasi yang dilakukan di tingkat desa, yang bersentuhan langsung dengan TN Lore Lindu maupun lingkungan sekitar desa. Saat ini telah terbentuk 20 LPKD di desa-desa penyangga taman nasional.

Dalam perjanjian kerja sama, masyarakat diberi akses untuk mengelola area dalam zona tradisional taman nasional [sesuai kesepakatan], untuk pengembangan ekowisata maupun pengambilan hasil hutan bukan kayu [HHBK] secara tradisional. Sedangkan bantuan yang diberikan, dapat digunakan sebagai modal pengembangan usaha produktif di desa maupun pengembangan HHBK tersebut.

Bantuan ini mereka manfaatkan, diantaranya untuk menghidupkan kembali kolam pemancingan ikan yang dulu digunakan masyarakat desa secara tradisional. “Kami menyebutnya wuhu, dalam bahasa Lore berarti kolam,” terang Leonard.

Meski terlihat malu-malu, Leonard tetap semangat ketika menjelaskan rencana besar kolam itu. “Kami berkomitmen menjaga kawasan Taman Nasional Lore Lindu yang memang berbatasan langsung dengan kolam ini. Kami akan membangun jalur pengamatan burung untuk pengembangan ekowisata di zona tradisional taman nasional, sebagai area yang telah disepakati dalam perjanjian kerja sama,” jelasnya. Pemuda ini berharap, pandemi COVID-19 segera berakhir, sehingga peluang pengembangan wisata desa terbuka kembali.

Taman Nasional Lore Lindu [215 ribu hektar] merupakan salah satu kawasan konservasi darat terluas di Sulawesi, yang mewakili keanekaragaman hayati utama di hutan dataran rendah dan tinggi.

Berada tepat di jantung Pulau Sulawesi, taman nasional ini merupakan generasi kedua di Indonesia, satu dari 11 taman nasional yang ditunjuk Menteri Pertanian [saat itu] dalam Kongres Taman Nasional Dunia ketiga di Bali pada 1982 silam.

Kawasan konservasi ini diharapkan dapat mempertahankan satwa-satwa ikonik Sulawesi, seperti maleo, julang sulawesi, anoa, musang sulawesi, beragam tarsius, dan sebagainya, serta menjaga sistem penyangga kehidupan di daerah sekitar.

Hutan lestari yang membawa manfaat

Jembatan gantung selebar dua meter membentang sepanjang hampir 50 meter di hadapan kami. Untuk menuju kediaman Ibu Raru Topuha [49], ketua kelompok pengarajin rotan Mpute di Desa Tomehipi, masih di Lore Barat, kami harus melalui jembatan itu, dengan mobil.

Kelompok Mpute merupakan bagian dari Kelompok Usaha Perhutanan Sosial [KUPS]. Skema Perhutanan Sosial yang diaplikasikan di Desa Tomehipi adalah Hutan Desa, dengan Lembaga Pengelola Hutan Desa [LPHD] Baleba sebagai kelompok pengelolanya.

Perhutanan Sosial adalah program KLHK, yaitu sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau hutan hak/adat, dilaksanakan oleh masyarakat setempat untuk meningkatkan kesejahteraan, keseimbangan lingkungan, dan dinamika sosial budaya. Saat ini terdapat lima skema yang diterapkan, yaitu Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Adat, dan Kemitraan Kehutanan.

Sementara ibu Raru sibuk membuat gelang rotan pesanan pengunjung, Natanael Wanihe [45], Ketua LPHD Baleba, menjelaskan pada kami bahwa terdapat tiga usulan KUPS yang dikembangkan dalam skema Hutan Desa di Tomehipi. Ada kelompok usaha pengrajin rotan, kelompok usaha kopi, serta kelompok usaha gula aren dan lebah madu.

“KUPS yang kami kembangkan sudah mendapat dukungan sejumlah pihak, termasuk dari KPH Sintuwu Maroso di Poso,” terang Natanael.

Peningkatan produktivitas, kualitas, dan pemasaran tentu saja menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan usaha-usaha perhutanan sosial. Tentunya, bukan sekadar bantuan dana dan pelatihan yang diperlukan, tapi juga pendampingan, pengembangan jaringan pasar, dan dukungan berbagai pihak.

Masyarakat di desa-desa Lore Barat dalam dataran Lembah Bada, selama ini dikenal sebagai perawat hutan yang baik. Meski sebagian dari mereka “mungkin” tidak mengerti, apa itu arti taman nasional, cagar biosfer, agroforestry, perhutanan sosial, dan sebagainya, namun praktik-praktik pengelolaan hutan yang berkelanjutan telah dan selalu mereka lakukan.

Hamparan sawah yang luas dan produktif adalah bukti, dengan menjaga hutan tetap lestari maka kegiatan pertanian mereka akan selalu bisa diandalkan.

 

*Hanom Bashari, Pemerhati ekologi dan konservasi burung liar. Aktif sebagai Implementation Consultant, Forest Programme III Sulawesi. Tinggal di Palu, Sulawesi Tengah. 

Sumber : www.mongabay.co.id

cloud
cloud

Cerita Para Perawat Hutan dari Lembah Bada


blog
  • Lembah Bada merupakan satu dari empat dataran tinggi penting di lanskap Lore Lindu, selain Napu, Besoa, dan Lindu. Lanskap Lore Lindu merupakan sebuah cagar biosfer.
  • Saat ini, Indonesia memiliki 19 cagar biosfer. Cagar Biosfer Lore Lindu adalah satu dari empat cagar biosfer pertama di Indonesia, yang ditetapkan sejak 1977. Sedangkan Taman Nasional [TN] Lore Lindu adalah zona inti cagar biosfer ini.
  • Lembah Bada [700-800 mpdl] merupakan dataran yang berada di sisi selatan TN Lore Lindu. Wilayahnya dikelilingi pegunungan berhutan lebat, dan menjadi salah satu daerah tangkapan air terpenting bagi Daerah Aliran Sungai [DAS] Lariang, yang berhulu di Sulawesi Barat. Kelestarian taman nasional dan daerah penyangganya sangat penting dalam menunjang dan menyelamatkan kehidupan masyarakat di sepanjang DAS Lariang.
  • Sejak 2020, Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung [BPDASHL] Palu-Poso, telah mengembangkan skema agroforestry untuk kelompok Molalawa ini. Termasuk, pengembangan kebun bibit desa. Sampai saat ini, telah lebih 30 desa dan puluhan kelompok agroforestry dikembangkan di desa-desa lainnya, di sekitar kawasan TN Lore Lindu.

 

Sore nan cerah pertengahan Februari 2021, menyambut kami saat melewati Patung Kruyt dan Adriani, tanda telah memasuki Kota Tentena, Sulawesi Tengah. Kami singgah sebentar di salah satu warung kopi di tepi outlet Danau Poso, yang alirannya bermuara ke utara Kota Poso.

Kehangatan sore menemani kami setelah perjalanan hampir 250 kilometer dari Palu. Rehat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menyusuri sisi utara Danau Poso yang tenang, dengan sawah-sawahnya yang mempesona. Akhirnya, kami memasuki jalan berliku dan menanjak, menuju Lembah Bada yang masyhur.

Setelah dua jam perjalanan, dari kejauhan tampak dataran Lembah Bada terhampar. Sawah yang sebagiannya telah menguning terhampar luas, berpadu bukit-bukit berhutan lebat di sisi utaranya.

Lembah Bada merupakan satu dari empat dataran tinggi penting di lanskap Lore Lindu, selain Napu, Besoa, dan Lindu. Lanskap Lore Lindu sendiri merupakan sebuah cagar biosfer.

Konsep ini digagas UNESCO sejak 1971, yaitu suatu kawasan yang dikelola dengan tujuan mengharmonikan antara kebutuhan konservasi keanekaragaman hayati, sosial, dan ekonomi yang berkelanjutan. Cagar biosfer yang ideal akan menguji dan mendemonstrasikan pendekatan-pendekatan yang mengarah pada pembangunan berkelanjutan pada tingkat regional.

Saat ini, Indonesia memiliki 19 cagar biosfer. Cagar Biosfer Lore Lindu adalah satu dari empat cagar biosfer pertama di Indonesia, yang ditetapkan sejak 1977. Sedangkan Taman Nasional [TN] Lore Lindu adalah zona inti cagar biosfer ini.

Membangun kebun serupa hutan

Keesokan pagi, kami bertemu Ibu Ruli Labulu [47], Camat Lore Barat, di Lengkeka. Sambutan hangat dan ramah menemani perbincangan kami terkait kegiatan Forest Programme [FP] III Sulawesi di enam desa di kecamatan ini.

Camat berharap, pengembangan masyarakat dalam program apapun harus bervisi berkelanjutan. Artinya, esensi pembangunan, pengembangan, dan perlindungan hutan di Lembah Bada harus terus berjalan, walaupun program yang dijalankan nanti telah selesai di tahun-tahun mendatang.

Forest Programme III Sulawesi merupakan program yang dijalankan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan [KLHK] dengan bantuan dana hibah dari Pemerintah Jerman. Tujuannya, mewujudkan pengelolaan lanskap Lore Lindu secara kolaboratif dan terpadu, baik dalam rangka konservasi keanekaragaman hayati maupun pengelolaan daerah aliran sungai. Landskap Lore Lindu adalah kawasan TN Lore Lindu beserta area penyangganya, salah satunya adalah Lembah Bada ini.

Lembah Bada [700-800 mpdl] merupakan dataran yang berada di sisi selatan TN Lore Lindu. Wilayahnya dikelilingi pegunungan berhutan lebat, dan menjadi salah satu daerah tangkapan air terpenting bagi Daerah Aliran Sungai [DAS] Lariang, yang berhulu di Sulawesi Barat. Kelestarian taman nasional dan daerah penyangganya sangat penting dalam menunjang dan menyelamatkan kehidupan masyarakat di sepanjang DAS Lariang.

Kami pun mengunjungi kebun bibit desa [KBD] yang dikelola Kelompok Tani Hutan Molalawa di Desa Lengkeka, tak jauh dari kantor Camat. Sejak 2020, Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung [BPDASHL] Palu-Poso, telah mengembangkan skema agroforestry untuk kelompok Molalawa ini. Termasuk, pengembangan KBD. Sampai saat ini, telah lebih 30 desa dan puluhan kelompok agroforestry dikembangkan di desa-desa lainnya, di sekitar kawasan TN Lore Lindu.

Kalilo Kawewo [48], ketua kelompok, menyambut hangat kami. Dia bersemangat menjelaskan jenis-jenis bibit yang telah dikembangkan, kegiatan penanaman yang tengah berlangsung, serta ketersediaan pupuk organik untuk penanaman.

“Kami membuat pupuk kompos sendiri dengan bahan dasar kotoran ternak dan hijauan dari lingkungan sekitar,” terangnya. Di sebelahnya, terhampar menghijau segar bibit-bibit jati putih [Gmelina arborea], kemiri [Aleurites moluccanus], alpukat [Persea Americana], dan coklat [Theobroma cacao], yang semuanya hampir siap tanam.

Skema agroforestry, dikembangkan di kebun masyarakat yang berada di tanah milik [areal penggunaan lain/APL]. Tiap anggota mengembangkan lahan sekitar satu hektar. Sistem agroforestry atau wanatani, merupakan model penggunaan lahan yang menggabungkan tanaman pertanian musiman dan pohon. Jenisnya, penghasil kayu maupun non-kayu.

Tanaman pertanian sangat diharapkan menjadi sumber penghasilan utama keluarga pemilik lahan. Sementara tanaman kayu yang beragam, jika digenerasikan dengan pola tanam yang baik, kayu maupun buahnya dapat dipanen di masa mendatang.

Pola tanam agroforestry diharapkan dapat menciptakan kebun serupa hutan secara fungsi, baik dalam hal menjaga kelestarian biodiversitas maupun penguatan DAS, sehingga dapat berkontribusi mengurangi risiko bencana alam.

Menghidupkan kembali tradisi dan potensi desa

Desa Tuare adalah salah satu desa tertua di Lembah Bada, permukiman paling barat di Lore Barat. Dari ibu kota kecamatan di Lengkeka, kami menggunakan mobil menelusuri jalan sejauh 8,5 kilometer menuju pusat desa. Jalan cukup baik walaupun bukan hotmix. Sepanjang perjalanan, di sisi kiri terlihat Sungai Lariang deras mengalir, sungai terpanjang di Sulawesi. Sementara di bagian kanan, tebing dan hamparan kebun silih berganti terlihat, dan sesekali tampak latar hutan-hutan hijau membiru nan megah.

Kami mengunjungi area Tambaga, sebuah tempat di tepi Sungai Lariang, sekitar tiga kilometer lagi dari desa. Di sinilah Leonard Baturu [39] beserta masyarakat Tuare, bahu membahu menghidupkan kembali sebuah kolam pemancingan tradisional desa yang telah lama terbengkalai.

Leonard menjabat Ketua Lembaga Pengelola Konservasi Desa [LPKD] Tuare. Lembaga ini bertujuan menjadi payung dan penggerak utama dalam setiap usaha konservasi yang dilakukan di tingkat desa, yang bersentuhan langsung dengan TN Lore Lindu maupun lingkungan sekitar desa. Saat ini telah terbentuk 20 LPKD di desa-desa penyangga taman nasional.

Dalam perjanjian kerja sama, masyarakat diberi akses untuk mengelola area dalam zona tradisional taman nasional [sesuai kesepakatan], untuk pengembangan ekowisata maupun pengambilan hasil hutan bukan kayu [HHBK] secara tradisional. Sedangkan bantuan yang diberikan, dapat digunakan sebagai modal pengembangan usaha produktif di desa maupun pengembangan HHBK tersebut.

Bantuan ini mereka manfaatkan, diantaranya untuk menghidupkan kembali kolam pemancingan ikan yang dulu digunakan masyarakat desa secara tradisional. “Kami menyebutnya wuhu, dalam bahasa Lore berarti kolam,” terang Leonard.

Meski terlihat malu-malu, Leonard tetap semangat ketika menjelaskan rencana besar kolam itu. “Kami berkomitmen menjaga kawasan Taman Nasional Lore Lindu yang memang berbatasan langsung dengan kolam ini. Kami akan membangun jalur pengamatan burung untuk pengembangan ekowisata di zona tradisional taman nasional, sebagai area yang telah disepakati dalam perjanjian kerja sama,” jelasnya. Pemuda ini berharap, pandemi COVID-19 segera berakhir, sehingga peluang pengembangan wisata desa terbuka kembali.

Taman Nasional Lore Lindu [215 ribu hektar] merupakan salah satu kawasan konservasi darat terluas di Sulawesi, yang mewakili keanekaragaman hayati utama di hutan dataran rendah dan tinggi.

Berada tepat di jantung Pulau Sulawesi, taman nasional ini merupakan generasi kedua di Indonesia, satu dari 11 taman nasional yang ditunjuk Menteri Pertanian [saat itu] dalam Kongres Taman Nasional Dunia ketiga di Bali pada 1982 silam.

Kawasan konservasi ini diharapkan dapat mempertahankan satwa-satwa ikonik Sulawesi, seperti maleo, julang sulawesi, anoa, musang sulawesi, beragam tarsius, dan sebagainya, serta menjaga sistem penyangga kehidupan di daerah sekitar.

Hutan lestari yang membawa manfaat

Jembatan gantung selebar dua meter membentang sepanjang hampir 50 meter di hadapan kami. Untuk menuju kediaman Ibu Raru Topuha [49], ketua kelompok pengarajin rotan Mpute di Desa Tomehipi, masih di Lore Barat, kami harus melalui jembatan itu, dengan mobil.

Kelompok Mpute merupakan bagian dari Kelompok Usaha Perhutanan Sosial [KUPS]. Skema Perhutanan Sosial yang diaplikasikan di Desa Tomehipi adalah Hutan Desa, dengan Lembaga Pengelola Hutan Desa [LPHD] Baleba sebagai kelompok pengelolanya.

Perhutanan Sosial adalah program KLHK, yaitu sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau hutan hak/adat, dilaksanakan oleh masyarakat setempat untuk meningkatkan kesejahteraan, keseimbangan lingkungan, dan dinamika sosial budaya. Saat ini terdapat lima skema yang diterapkan, yaitu Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Adat, dan Kemitraan Kehutanan.

Sementara ibu Raru sibuk membuat gelang rotan pesanan pengunjung, Natanael Wanihe [45], Ketua LPHD Baleba, menjelaskan pada kami bahwa terdapat tiga usulan KUPS yang dikembangkan dalam skema Hutan Desa di Tomehipi. Ada kelompok usaha pengrajin rotan, kelompok usaha kopi, serta kelompok usaha gula aren dan lebah madu.

“KUPS yang kami kembangkan sudah mendapat dukungan sejumlah pihak, termasuk dari KPH Sintuwu Maroso di Poso,” terang Natanael.

Peningkatan produktivitas, kualitas, dan pemasaran tentu saja menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan usaha-usaha perhutanan sosial. Tentunya, bukan sekadar bantuan dana dan pelatihan yang diperlukan, tapi juga pendampingan, pengembangan jaringan pasar, dan dukungan berbagai pihak.

Masyarakat di desa-desa Lore Barat dalam dataran Lembah Bada, selama ini dikenal sebagai perawat hutan yang baik. Meski sebagian dari mereka “mungkin” tidak mengerti, apa itu arti taman nasional, cagar biosfer, agroforestry, perhutanan sosial, dan sebagainya, namun praktik-praktik pengelolaan hutan yang berkelanjutan telah dan selalu mereka lakukan.

Hamparan sawah yang luas dan produktif adalah bukti, dengan menjaga hutan tetap lestari maka kegiatan pertanian mereka akan selalu bisa diandalkan.

 

*Hanom Bashari, Pemerhati ekologi dan konservasi burung liar. Aktif sebagai Implementation Consultant, Forest Programme III Sulawesi. Tinggal di Palu, Sulawesi Tengah. 

Sumber : www.mongabay.co.id

0   0

Ada pertanyaan mengenai pengalaman ini ? Diskusikan pada kolom komentar ini