Program Perhutanan Sosial (HutSos) yang digulirkan sejak 2016 mulai berdampak luas, bahkan bagi masyarakat pemegang izin HutSos, manfaat pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bisa meningkatkan taraf hidup. Salah satu yang dibilang berhasil memanfaatkan pengelohan hutan dengan skema HutSos adalah di Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Limau, Sarolangun.

 

Kepala UPTD KPHP Limau Unit VII Hulu Sarolangun, Misriadi mengatakan kegiatan HutSos saat ini mulai berjalan dan menuju seperti yang diharapkan. Pasca terbitnya SK (izin) HutSos di KPHP Limau, sudah ada 10 Hutan Desa, 10 Hutan Adat dan ada 23 kemitraan terutama dengan kelompok pengelola kepayang.

Luas Hutan Desa yang telah mengantongi izin HutSos hampir 32 ribu hektar dari 10 izin yang dikeluarkan, untuk Hutan Adat sekitar 2.500 hektar, dan lahan kemitraan di lokasi KPHP Limau dengan kelompok masyarakat sekitar 5 ribu hektar.

“Saat ini saya dan teman-teman KPHP sedang menghimpun para pihak untuk mengisi pasca izin. Ini yang paling penting, karena kalau mendorong SK kemaren mungkin tidak terlalu sulit bagi kami, karena lengkap syarat administrasi dan syarat teknis, terbitlah SK dari Kementerian LHK,” katanya.

“Untuk itu pekerjaan yang paling penting saat ini adalah mengisi pasca dikeluarkannya izin. Salah satunya padat karya yang kami lakukan, berbagai intervensi yang kami lakukan. Itu dalam bentuk wujud-wujud nyata dimulai dari implementasi Rencana Pengelolaan Hutan Desa (RPHD) kita, dari menggugah minat masyarakat untuk perbaiki tutupan hutan yang ada, serta cara menanam,” katanya lagi.

Untuk di Hutan Desa sudah mulai dilakukan kegiatan bersama dan difasilitasi oleh KPHP Limau, masing-masing desa memiliki pembibitan sekitar 12.500 batang/hektar.

“Jenis tanamannya di antaranya HHBK, ada juga kopi yang lagi ngetrend dan tanaman unggul lokal. Karet hanya sepersekian kecil, yang dikembangkan ada meranti, tengkawang, jabon, juga buah-buahan unggulan lokal,” kata Misriadi.

Setelah itu, KPHP Limau juga melakukan pendampingan masyarakat kelompok pengelolaan Hutan Desa, bagaimana mereka bisa menghasilkan dari produk-produk HHBK yang potensinya ada di Hutan Desa tersebut yang diolah menjadi sesuatu yang menghasilkan.

Salah satunya adalah minyak kepayang, karena pohon kepayang tersebar merata di KPH Limau terutama di lokasi-lokasi HutSos.

Saat ini mereka sudah mampu memfasilitasi hingga sampai ke pemasaran dan produk minyak kepayang ini merupakan satu-satunya di Indonesia dan juga di dunia, KPHP Limau juga sudah merintis pasarnya hingga ke pasar internasional.

“Kita perkenalkan ke dunia internasional, agar harapannya minyak kepayang ini mendapatkan harga yang layak,” katanya.

Misriadi memberi penjelasan jika minyak kepayang bukan sekelas minyak goreng biasa, tapi kelasnya adalah olive oil, setara dengan minyak zaitun. Tapi kandungannya hasil uji lab justru lebih tinggi dari minyak zaitun. Salah satunya minyak kepayang memiliki DHA atau Omega 3 yang lebih tinggi dari minyak ikan.

“Hampir 4 persen kandungan Omega 3 nya,” kata Misriadi.

Kemudian selain minyak kepayang, KPHP juga mendorong untuk pemasaran madu. Bahkan mereka telah memiliki produk sekaligus brand ‘Limau Honey’. “Sudah ada permintaan dari luar negeri, dari Jepang, walaupun permintaan masih kecil namun sudah ekspor,” katanya.

Berkat Limau Honey, untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari KPHP Limau untuk HHBK merupakan yang tertinggi dari seluruh HHBK se-Indonesia. “Setoran madu kita itu paling tinggi setoran PNBP-nya, sekitar Rp2,5 juta/periode panen,” katanya.

Misriadi mengatakan skema HutSos memang sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pemegang legalitas, karena selama ini masyarakat tidak diberi ruang, salah satu manfaat dengan adanya skema HutSos adalah masyarakat secara legal diakui oleh pemerintah untuk mengelola hutan

“Jadi tidak ada rasa takut lagi, tapi tetap dengan aturan main yang ada,” katanya.

Menurutnya, masyarakat sangat patuh dengan aturan pengelolaan HutSos yang berlaku, namun dengan catatan KPHP selaku pengelola di tingkat tapak memberikan pelayanan dan bimbingan secara intensif kepada masyarakat.

Kembali kepada HHBK. Selain madu, di KPHP Limau juga memiliki produk minyak tengkawang yang diolah dari buah tengkawang, buah hutan ini sudah langka dan bahkan hampir punah. Di KPHP Limau juga ada produk garam gunung.

 

Misriadi memberi penjelasan jika minyak tengkawang memiliki khasiat di kalangan masyarakat tradisional sebagai obat yang mujarab untuk menghilangkan sariawan. Minyak tengkawang juga memiliki kandungan Vitamin E dan DHA (Omega 3) yang cukup tinggi.

 

Soal garam gunung, Misriadi sedikit melempar guyonan jika di berbagai forum ia selalu menyampaikan jika di KPHP Limau tidak mengenal istilah “asam di gunung, garam di laut”. Karena mereka punya garam gunung yang didapat di wilayah dataran paling tinggi hulu Sarolangun, diambil dari mata air asin yang ada di Desa Sungai Keradak dan Desa Bukit Berantai, Kecamatan Batang Asai. Yang merupakan bagian dari Hutan Desa.  “Kita kembangkan dan kita pasarkan (garam gunung), dari hasil sementara ini justru ada peminatnya dari luar negeri,” katanya.

Potensi produk HutSos di KPHP Limau memang sangat tinggi, selain produk-produk olahan yang telah disebutkan Misriadi. Di wilayah cakupan KPHP Ulu tersebut mereka juga mengembangkan potensi nilam dan kopi dari skema Hutan Desa yang sudah mulai proses panen.

Namun, Misriadi menyadari jika potensi-potensi produk HutSos ini masih membutuhkan penanganan dan dukungan dari multi pihak, sebab ia menyadari jika tidak semua bisa difasilitasi dan ditangani oleh KPHP Limau.

“Tanpa dukungan dari teman-teman NGO, teman lembaga publik lainnya dan juga dari pemerintah daerah ini tidak akan berhasil,” katanya.

Soal produk unggulan olahan kepayang, KPHP Limau tidak hanya terpaku pada produksi minyak kepayang. Tetapi untuk menambah value bagi masyarakat, dengan membuat diversifikasi produk turunan dari kepayang. Berupa sabun kepayang, lotion kepayang, minyak urut kepayang dan aroma terapi kepayang.

“Nanti kita juga akan memiliki produk minyak rambut (pomade) berbahan baku kepayang, ini sedang on proses,” katanya.

Produk-produk turunan olahan kepayang itu sudah dipasarkan meskipun masih di level dalam negeri, mereka berkolaborasi dengan shop-shop yang menjual produk-produk herbal, bekerja sama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Deskranasda) dan galeri-galeri HHBK.

“Produk kita juga sudah ada di Toko AA di dekat Tugu Pers Kota Jambi, juga ada di Gerai Sari Kemuning di Bandara Sultan Thaha Jambi. Kemudian kita juga bekerja sama dengan Pesona Mart, KPH Mart. Saat ini kita juga sedang merintis kerja sama dengan salah satu pemilik toko produk herbal yang ada di Malaysia,” katanya.

 

KPHP Limau sendiri mencakup wilayah tiga kecamatan. Yakni Kecamatan Batang Asai, Limun dan Cermin Nan Gedang (CNG) dengan luasan hutan sekitar 121.102 hektar. Terdiri dari hutan lindung 700 hektar, sisanya adalah hutan produksi dan hutan produksi terbatas.

Terkait pagelaran Festival Perhutanan Sosial Nasional (PeSoNa) 2018 di Jambi, Misriadi sangat berharap melalui event nasional ini konsep hulu hilir produk-produk alam hasil pengelolaan HutSos benar-benar berjalan dan terintegrasi.

“Di KPH mempersiapkan, mengembangkan dan menyajikan produk-produk hasil hutan bukan kayu kepada pasar, melalui Festival PeSoNa ini bisa menjadi media yang bisa menyampaikan produk-produk kita lebih dikenal di pasaran secara luas. Ini konsep yang sangat sinergis antara konsep industri (hulu) hingga hilirnya, jelas mata rantainya, strukturnya dan jelas manajemennya,” kata Misriadi.

Menurutnya, selama ini yang sering menghambat pengembangan dan pemasaran hasil hutan bukan kayu itu karena tidak adanya pasar, sebab tidak ada lembaga atau institusi yang menjembatani produk masyarakat bisa ke pasar yang lebih luas.

Hadirnya berbagai multi pihak dalam Festival PeSoNa 2018. Mulai dari pengusaha, kalangan perusahaan, kalangan birokrasi hingga masyarakat luas. Bagi Misriadi bisa dijadikan kesempatan untuk lebih mempopulerkan produk HHBK, terutama hasil produksi di KPHP Limau.

Dengan adanya event ini, kata Misriadi bisa menjadikan usaha oleh masyarakat dan kelompok petani pengelola hutan yang dirintis dari tingkat tapak bisa eksis dan meningkatkan taraf kesejahteraan mereka. “Jadi saya sangat mendukung terselenggaranya Festival PeSoNa 2018 di Jambi,” katanya.

KPHH Limau sendiri akan ambil bagian dalam gelaran Festival PeSoNa 2018 di Jambi yang akan berlangsung pada 29 November hingga 1 Desember 2018 di Ratu Convetion Center (RCC) di bilangan Broni, Kota Jambi. KPHP Limau akan menampilkan ikon mereka berupa produk unggulan kepayang, limau honey, minyak ketawang, minyak nilam dan garam gunung. “Kita tidak hanya memajang display produk, bukan hanya pameran. Tetapi kita akan memberikan tester kepada pengunjung, sehingga kita tidak hanya menjual kemasan, namun pengunjung bisa mencicipi madu dan produk-produk lain,” katanya.

Dengan konsep Pesta Rakyat, Festival PeSoNa 2018 mengangkat tema “Kita Kelola Kita Sejahtera”. Event ini hasil kerjasama Ditjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pemerintah Jerman dan KFW Develpoment Bank. Festival PeSoNa 2018 di Provinsi Jambi sebagai estafet dengan menjadikan tradisi festival sebagai ajang memfasilitasi Forum Perhutanan Sosial Nusantara (PeSoNa) Regional Sumatera, Festival PeSoNa 2018 di Provinsi Jambi merupakan ajang pertemuan antar stakeholder (Kementerian/Lembaga, NGO/LSM, Dunia Usaha, Pokja Percepatan Perhutanan Sosial, Kelompok Tani/Masyarakat). Festival PeSoNa 2018 di Provinsi Jambi merupakan rentetan kegiatan yang juga sekaligus untuk mempromosikan hasil usaha dari Perhutanan Sosial, festival ini juga merupakan ajang edukasi bagi kelompok-kelompok tani untuk memahami rantai pasar terhadap produk-produk dari Perhutanan Sosial yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan hutan. (*)

 

 

 

cloud
cloud

Minyak Kepayang Hasil Produk HutSos yang Tembus Pasar Eropa


blog

Program Perhutanan Sosial (HutSos) yang digulirkan sejak 2016 mulai berdampak luas, bahkan bagi masyarakat pemegang izin HutSos, manfaat pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bisa meningkatkan taraf hidup. Salah satu yang dibilang berhasil memanfaatkan pengelohan hutan dengan skema HutSos adalah di Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Limau, Sarolangun.

 

Kepala UPTD KPHP Limau Unit VII Hulu Sarolangun, Misriadi mengatakan kegiatan HutSos saat ini mulai berjalan dan menuju seperti yang diharapkan. Pasca terbitnya SK (izin) HutSos di KPHP Limau, sudah ada 10 Hutan Desa, 10 Hutan Adat dan ada 23 kemitraan terutama dengan kelompok pengelola kepayang.

Luas Hutan Desa yang telah mengantongi izin HutSos hampir 32 ribu hektar dari 10 izin yang dikeluarkan, untuk Hutan Adat sekitar 2.500 hektar, dan lahan kemitraan di lokasi KPHP Limau dengan kelompok masyarakat sekitar 5 ribu hektar.

“Saat ini saya dan teman-teman KPHP sedang menghimpun para pihak untuk mengisi pasca izin. Ini yang paling penting, karena kalau mendorong SK kemaren mungkin tidak terlalu sulit bagi kami, karena lengkap syarat administrasi dan syarat teknis, terbitlah SK dari Kementerian LHK,” katanya.

“Untuk itu pekerjaan yang paling penting saat ini adalah mengisi pasca dikeluarkannya izin. Salah satunya padat karya yang kami lakukan, berbagai intervensi yang kami lakukan. Itu dalam bentuk wujud-wujud nyata dimulai dari implementasi Rencana Pengelolaan Hutan Desa (RPHD) kita, dari menggugah minat masyarakat untuk perbaiki tutupan hutan yang ada, serta cara menanam,” katanya lagi.

Untuk di Hutan Desa sudah mulai dilakukan kegiatan bersama dan difasilitasi oleh KPHP Limau, masing-masing desa memiliki pembibitan sekitar 12.500 batang/hektar.

“Jenis tanamannya di antaranya HHBK, ada juga kopi yang lagi ngetrend dan tanaman unggul lokal. Karet hanya sepersekian kecil, yang dikembangkan ada meranti, tengkawang, jabon, juga buah-buahan unggulan lokal,” kata Misriadi.

Setelah itu, KPHP Limau juga melakukan pendampingan masyarakat kelompok pengelolaan Hutan Desa, bagaimana mereka bisa menghasilkan dari produk-produk HHBK yang potensinya ada di Hutan Desa tersebut yang diolah menjadi sesuatu yang menghasilkan.

Salah satunya adalah minyak kepayang, karena pohon kepayang tersebar merata di KPH Limau terutama di lokasi-lokasi HutSos.

Saat ini mereka sudah mampu memfasilitasi hingga sampai ke pemasaran dan produk minyak kepayang ini merupakan satu-satunya di Indonesia dan juga di dunia, KPHP Limau juga sudah merintis pasarnya hingga ke pasar internasional.

“Kita perkenalkan ke dunia internasional, agar harapannya minyak kepayang ini mendapatkan harga yang layak,” katanya.

Misriadi memberi penjelasan jika minyak kepayang bukan sekelas minyak goreng biasa, tapi kelasnya adalah olive oil, setara dengan minyak zaitun. Tapi kandungannya hasil uji lab justru lebih tinggi dari minyak zaitun. Salah satunya minyak kepayang memiliki DHA atau Omega 3 yang lebih tinggi dari minyak ikan.

“Hampir 4 persen kandungan Omega 3 nya,” kata Misriadi.

Kemudian selain minyak kepayang, KPHP juga mendorong untuk pemasaran madu. Bahkan mereka telah memiliki produk sekaligus brand ‘Limau Honey’. “Sudah ada permintaan dari luar negeri, dari Jepang, walaupun permintaan masih kecil namun sudah ekspor,” katanya.

Berkat Limau Honey, untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari KPHP Limau untuk HHBK merupakan yang tertinggi dari seluruh HHBK se-Indonesia. “Setoran madu kita itu paling tinggi setoran PNBP-nya, sekitar Rp2,5 juta/periode panen,” katanya.

Misriadi mengatakan skema HutSos memang sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pemegang legalitas, karena selama ini masyarakat tidak diberi ruang, salah satu manfaat dengan adanya skema HutSos adalah masyarakat secara legal diakui oleh pemerintah untuk mengelola hutan

“Jadi tidak ada rasa takut lagi, tapi tetap dengan aturan main yang ada,” katanya.

Menurutnya, masyarakat sangat patuh dengan aturan pengelolaan HutSos yang berlaku, namun dengan catatan KPHP selaku pengelola di tingkat tapak memberikan pelayanan dan bimbingan secara intensif kepada masyarakat.

Kembali kepada HHBK. Selain madu, di KPHP Limau juga memiliki produk minyak tengkawang yang diolah dari buah tengkawang, buah hutan ini sudah langka dan bahkan hampir punah. Di KPHP Limau juga ada produk garam gunung.

 

Misriadi memberi penjelasan jika minyak tengkawang memiliki khasiat di kalangan masyarakat tradisional sebagai obat yang mujarab untuk menghilangkan sariawan. Minyak tengkawang juga memiliki kandungan Vitamin E dan DHA (Omega 3) yang cukup tinggi.

 

Soal garam gunung, Misriadi sedikit melempar guyonan jika di berbagai forum ia selalu menyampaikan jika di KPHP Limau tidak mengenal istilah “asam di gunung, garam di laut”. Karena mereka punya garam gunung yang didapat di wilayah dataran paling tinggi hulu Sarolangun, diambil dari mata air asin yang ada di Desa Sungai Keradak dan Desa Bukit Berantai, Kecamatan Batang Asai. Yang merupakan bagian dari Hutan Desa.  “Kita kembangkan dan kita pasarkan (garam gunung), dari hasil sementara ini justru ada peminatnya dari luar negeri,” katanya.

Potensi produk HutSos di KPHP Limau memang sangat tinggi, selain produk-produk olahan yang telah disebutkan Misriadi. Di wilayah cakupan KPHP Ulu tersebut mereka juga mengembangkan potensi nilam dan kopi dari skema Hutan Desa yang sudah mulai proses panen.

Namun, Misriadi menyadari jika potensi-potensi produk HutSos ini masih membutuhkan penanganan dan dukungan dari multi pihak, sebab ia menyadari jika tidak semua bisa difasilitasi dan ditangani oleh KPHP Limau.

“Tanpa dukungan dari teman-teman NGO, teman lembaga publik lainnya dan juga dari pemerintah daerah ini tidak akan berhasil,” katanya.

Soal produk unggulan olahan kepayang, KPHP Limau tidak hanya terpaku pada produksi minyak kepayang. Tetapi untuk menambah value bagi masyarakat, dengan membuat diversifikasi produk turunan dari kepayang. Berupa sabun kepayang, lotion kepayang, minyak urut kepayang dan aroma terapi kepayang.

“Nanti kita juga akan memiliki produk minyak rambut (pomade) berbahan baku kepayang, ini sedang on proses,” katanya.

Produk-produk turunan olahan kepayang itu sudah dipasarkan meskipun masih di level dalam negeri, mereka berkolaborasi dengan shop-shop yang menjual produk-produk herbal, bekerja sama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Deskranasda) dan galeri-galeri HHBK.

“Produk kita juga sudah ada di Toko AA di dekat Tugu Pers Kota Jambi, juga ada di Gerai Sari Kemuning di Bandara Sultan Thaha Jambi. Kemudian kita juga bekerja sama dengan Pesona Mart, KPH Mart. Saat ini kita juga sedang merintis kerja sama dengan salah satu pemilik toko produk herbal yang ada di Malaysia,” katanya.

 

KPHP Limau sendiri mencakup wilayah tiga kecamatan. Yakni Kecamatan Batang Asai, Limun dan Cermin Nan Gedang (CNG) dengan luasan hutan sekitar 121.102 hektar. Terdiri dari hutan lindung 700 hektar, sisanya adalah hutan produksi dan hutan produksi terbatas.

Terkait pagelaran Festival Perhutanan Sosial Nasional (PeSoNa) 2018 di Jambi, Misriadi sangat berharap melalui event nasional ini konsep hulu hilir produk-produk alam hasil pengelolaan HutSos benar-benar berjalan dan terintegrasi.

“Di KPH mempersiapkan, mengembangkan dan menyajikan produk-produk hasil hutan bukan kayu kepada pasar, melalui Festival PeSoNa ini bisa menjadi media yang bisa menyampaikan produk-produk kita lebih dikenal di pasaran secara luas. Ini konsep yang sangat sinergis antara konsep industri (hulu) hingga hilirnya, jelas mata rantainya, strukturnya dan jelas manajemennya,” kata Misriadi.

Menurutnya, selama ini yang sering menghambat pengembangan dan pemasaran hasil hutan bukan kayu itu karena tidak adanya pasar, sebab tidak ada lembaga atau institusi yang menjembatani produk masyarakat bisa ke pasar yang lebih luas.

Hadirnya berbagai multi pihak dalam Festival PeSoNa 2018. Mulai dari pengusaha, kalangan perusahaan, kalangan birokrasi hingga masyarakat luas. Bagi Misriadi bisa dijadikan kesempatan untuk lebih mempopulerkan produk HHBK, terutama hasil produksi di KPHP Limau.

Dengan adanya event ini, kata Misriadi bisa menjadikan usaha oleh masyarakat dan kelompok petani pengelola hutan yang dirintis dari tingkat tapak bisa eksis dan meningkatkan taraf kesejahteraan mereka. “Jadi saya sangat mendukung terselenggaranya Festival PeSoNa 2018 di Jambi,” katanya.

KPHH Limau sendiri akan ambil bagian dalam gelaran Festival PeSoNa 2018 di Jambi yang akan berlangsung pada 29 November hingga 1 Desember 2018 di Ratu Convetion Center (RCC) di bilangan Broni, Kota Jambi. KPHP Limau akan menampilkan ikon mereka berupa produk unggulan kepayang, limau honey, minyak ketawang, minyak nilam dan garam gunung. “Kita tidak hanya memajang display produk, bukan hanya pameran. Tetapi kita akan memberikan tester kepada pengunjung, sehingga kita tidak hanya menjual kemasan, namun pengunjung bisa mencicipi madu dan produk-produk lain,” katanya.

Dengan konsep Pesta Rakyat, Festival PeSoNa 2018 mengangkat tema “Kita Kelola Kita Sejahtera”. Event ini hasil kerjasama Ditjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pemerintah Jerman dan KFW Develpoment Bank. Festival PeSoNa 2018 di Provinsi Jambi sebagai estafet dengan menjadikan tradisi festival sebagai ajang memfasilitasi Forum Perhutanan Sosial Nusantara (PeSoNa) Regional Sumatera, Festival PeSoNa 2018 di Provinsi Jambi merupakan ajang pertemuan antar stakeholder (Kementerian/Lembaga, NGO/LSM, Dunia Usaha, Pokja Percepatan Perhutanan Sosial, Kelompok Tani/Masyarakat). Festival PeSoNa 2018 di Provinsi Jambi merupakan rentetan kegiatan yang juga sekaligus untuk mempromosikan hasil usaha dari Perhutanan Sosial, festival ini juga merupakan ajang edukasi bagi kelompok-kelompok tani untuk memahami rantai pasar terhadap produk-produk dari Perhutanan Sosial yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan hutan. (*)

 

 

 


 Lihat Hasil Review

0   0

Ada pertanyaan mengenai pengalaman ini ? Diskusikan pada kolom komentar ini