Keterangan foto : Anggota KTH Wana Lestari Haris memanen madu lebah di Desa Rejosari, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Selasa (26/7/2022). (ANTARA/Prisca Triferna)

Lubuklinggau, Sumsel (ANTARA) - Budidaya lebah madu selain memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar kawasan hutan juga mendatangkan manfaat ekologis karena kegiatan itu menuntut pemeliharaan dan pengayaan populasi pohon dan tumbuhan berbunga guna menjaga ketersediaan pakan lebah.  

Pengembangan usaha lebah madu bisa mendatangkan manfaat ekonomis sekaligus ekologis jika dilakukan dengan teknik budidaya yang berkelanjutan.

Kesatuan Pengelolaan Kehutanan (KPH) Lakitan Bukit Cogong berusaha mendorong penerapan praktik budidaya lebah madu secara berkelanjutan dengan mendirikan LBC Bee Breeding Center di Desa O Mangun Harjo, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan.

Kepala KPH Lakitan Bukit Cogong Edi Cahyono menyampaikan bahwa pusat pembiakan lebah madu itu didirikan antara lain karena tingginya animo masyarakat untuk mencari madu di hutan bisa mengancam populasi lebah di habitat mereka.

"Kalau lama-lama ini berkembang, kalau hanya 10 batang tidak berpengaruh, tapi kalau semuanya atau semakin banyak yang mengembangkan akan merusak hutan itu sendiri. Sehingga kita berpikir bagaimana caranya bisa mengembangkan perbanyakan (lebah) yang tidak mengambil dari hutan," kata Edi pada Senin (25/7).

Guna mendirikan pusat pembiakan lebah madu Trigona, tim KPH Lakitan Bukit Cogong pada tahun 2017 mempelajari teknik budidaya dan pembiakan lebah madu di Bogor, Jawa Barat.

Keinginan KPH Lakitan Bukit Cogong untuk memiliki fasilitas budidaya dan pembiakan lebah madu tanpa sengat Trigona baru bisa terwujud pada akhir tahun 2020 dengan bantuan dari Forest Investment Program (FIP) 2 yang dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Di lahan seluas enam hektare yang merupakan aset milik Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, KPH Lakitan Bukit Cogong menggunakan area dengan luas sekitar dua hektare untuk pembangunan pusat budidaya lebah jenis trigona, yaitu Heterotrigona itama dan Tetragonula biroi.

Guna memenuhi kebutuhan pakan lebah, jenis tumbuhan berbunga penghasil nektar dan serbuk sari seperti Antigonon leptopus atau  bunga air mata pengantin dan Peregrina atau bunga batavia di tanam di area itu. Demikian pula pepohonan sumber resin seperti pohon manga dan manggis.

LBC Bee Breeding Center kini telah memiliki 40 stup (kotak sarang) lebah jenis Heterotrigona itama serta 62 stup lebah jenis Tetragonula biroi.

Edi menjelaskan bahwa selain untuk menghasilkan bibit lebah madu, LBC Bee Breeding Center juga didirikan untuk menyediakan sarana wisata edukasi.

Meski belum diluncurkan secara resmi, menurut dia, LBC Bee Breeding Center sudah menerima kunjungan dari beberapa instansi dan sekolah serta memfasilitasi mahasiswa melakukan praktik lapangan.

Edi berharap upaya pemuliaan lebah Trigona di LBC Bee Breeding Center dapat terus berkembang untuk mendukung upaya budidaya lebah maupun konservasi kawasan hutan.


Upaya Masyarakat

Kelompok Tani Hutan Wana Lestari binaan KPH Lakitan Bukit Cogong sejak November 2021 menjalankan usaha budidaya lebah madu jenis Apis mellifer di Desa Rejosari, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan.

Ketua KTH Wana Lestari Gunawan pada Selasa (26/7) menuturkan bahwa dia bersama empat orang anggota KTH dan lima orang dari KPH menjalani pelatihan budidaya lebah di Jambi sebelum menjalankan usaha budidaya lebah madu.

KTH Wana Lestari membangun usaha budidaya lebah madu dengan dukungan dari FIP 2 dan KPH Lakitan Bukit Cogong. Mereka memulai usaha budidaya dengan 20 koloni lebah.

Usaha KTH Wana Lestari kini sudah berkembang. Kelompok tani itu sudah memiliki 239 kotak koloni lebah madu.

Gunawan dan 14 orang anggota KTH Wana Lestari sudah menikmati hasil dari usaha budidaya lebah madu tersebut. 

Dengan 239 kotak koloni lebah madu yang mereka miliki, KTH Wana Lestari bisa menghasilkan 300 kg sampai 500 kg madu dalam rentang masa panen 15 sampai 20 hari. Ketika cuaca mendukung, kelompok tani bisa mendapat panenan yang lebih banyak.

KTH Wana Lestari memasarkan madu mereka melalui dua jalur. Mereka menjual madu ke KPH Lakitan Bukit Cogong dengan harga Rp50.000 per kg dan memasarkan madu langsung ke konsumen dengan harga Rp70.000 per kg.

Menurut Gunawan, usaha budidaya lebah madu membantu anggota kelompok yang kebanyakan petani sawit dan karet meningkatkan pendapatan.

"Dengan adanya kegiatan budidaya lebah madu ini kami tentu menambah hasil untuk kebutuhan sehari-hari," kata Gunawan, pria asal Jawa Tengah yang bertransmigrasi ke Musi Rawas tahun 1985.

"Kalau bisa dibandingkan dalam kurun waktu satu semester ini, dibanding pemasukan dari kelapa sawit ini tampaknya jauh lebih menguntungkan usaha lebah madu," katanya.

KTH Wana Lestari selanjutnya berencana mengembangkan usaha budidaya lebah madu dan memperluas pasar produk madu mereka yang saat ini masih terbatas.

​​​​​​​Gunawan berharap pemerintah dan instansi terkait lain membantu kelompok tani mengembangkan usaha serta memberikan pendampingan kepada pelaku usaha budidaya lebah madu, utamanya dalam pemasaran produk.

Selain di Musi Rawas, usaha budidaya lebah madu tanpa sengat juga dilakukan oleh kelompok-kelompok tani di wilayah Kalimantan, Sumatera, dan Papua untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari produk hasil hutan bukan kayu sekaligus mendukung upaya melindungi kawasan hutan.

Melalui pengembangan usaha budidaya lebah madu, pemerintah bisa mendorong berpartisipasi aktif warga dalam upaya pengelolaan kawasan konservasi sekaligus membantu masyarakat sekitar kawasan hutan meningkatkan kesejahteraan. ​​​​​​​

Oleh Prisca Triferna Violleta
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Sumber : www.antaranews.com

cloud
cloud

Menjaga hutan dengan membudidayakan lebah madu


blog

Keterangan foto : Anggota KTH Wana Lestari Haris memanen madu lebah di Desa Rejosari, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Selasa (26/7/2022). (ANTARA/Prisca Triferna)

Lubuklinggau, Sumsel (ANTARA) - Budidaya lebah madu selain memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar kawasan hutan juga mendatangkan manfaat ekologis karena kegiatan itu menuntut pemeliharaan dan pengayaan populasi pohon dan tumbuhan berbunga guna menjaga ketersediaan pakan lebah.  

Pengembangan usaha lebah madu bisa mendatangkan manfaat ekonomis sekaligus ekologis jika dilakukan dengan teknik budidaya yang berkelanjutan.

Kesatuan Pengelolaan Kehutanan (KPH) Lakitan Bukit Cogong berusaha mendorong penerapan praktik budidaya lebah madu secara berkelanjutan dengan mendirikan LBC Bee Breeding Center di Desa O Mangun Harjo, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan.

Kepala KPH Lakitan Bukit Cogong Edi Cahyono menyampaikan bahwa pusat pembiakan lebah madu itu didirikan antara lain karena tingginya animo masyarakat untuk mencari madu di hutan bisa mengancam populasi lebah di habitat mereka.

"Kalau lama-lama ini berkembang, kalau hanya 10 batang tidak berpengaruh, tapi kalau semuanya atau semakin banyak yang mengembangkan akan merusak hutan itu sendiri. Sehingga kita berpikir bagaimana caranya bisa mengembangkan perbanyakan (lebah) yang tidak mengambil dari hutan," kata Edi pada Senin (25/7).

Guna mendirikan pusat pembiakan lebah madu Trigona, tim KPH Lakitan Bukit Cogong pada tahun 2017 mempelajari teknik budidaya dan pembiakan lebah madu di Bogor, Jawa Barat.

Keinginan KPH Lakitan Bukit Cogong untuk memiliki fasilitas budidaya dan pembiakan lebah madu tanpa sengat Trigona baru bisa terwujud pada akhir tahun 2020 dengan bantuan dari Forest Investment Program (FIP) 2 yang dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Di lahan seluas enam hektare yang merupakan aset milik Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, KPH Lakitan Bukit Cogong menggunakan area dengan luas sekitar dua hektare untuk pembangunan pusat budidaya lebah jenis trigona, yaitu Heterotrigona itama dan Tetragonula biroi.

Guna memenuhi kebutuhan pakan lebah, jenis tumbuhan berbunga penghasil nektar dan serbuk sari seperti Antigonon leptopus atau  bunga air mata pengantin dan Peregrina atau bunga batavia di tanam di area itu. Demikian pula pepohonan sumber resin seperti pohon manga dan manggis.

LBC Bee Breeding Center kini telah memiliki 40 stup (kotak sarang) lebah jenis Heterotrigona itama serta 62 stup lebah jenis Tetragonula biroi.

Edi menjelaskan bahwa selain untuk menghasilkan bibit lebah madu, LBC Bee Breeding Center juga didirikan untuk menyediakan sarana wisata edukasi.

Meski belum diluncurkan secara resmi, menurut dia, LBC Bee Breeding Center sudah menerima kunjungan dari beberapa instansi dan sekolah serta memfasilitasi mahasiswa melakukan praktik lapangan.

Edi berharap upaya pemuliaan lebah Trigona di LBC Bee Breeding Center dapat terus berkembang untuk mendukung upaya budidaya lebah maupun konservasi kawasan hutan.


Upaya Masyarakat

Kelompok Tani Hutan Wana Lestari binaan KPH Lakitan Bukit Cogong sejak November 2021 menjalankan usaha budidaya lebah madu jenis Apis mellifer di Desa Rejosari, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan.

Ketua KTH Wana Lestari Gunawan pada Selasa (26/7) menuturkan bahwa dia bersama empat orang anggota KTH dan lima orang dari KPH menjalani pelatihan budidaya lebah di Jambi sebelum menjalankan usaha budidaya lebah madu.

KTH Wana Lestari membangun usaha budidaya lebah madu dengan dukungan dari FIP 2 dan KPH Lakitan Bukit Cogong. Mereka memulai usaha budidaya dengan 20 koloni lebah.

Usaha KTH Wana Lestari kini sudah berkembang. Kelompok tani itu sudah memiliki 239 kotak koloni lebah madu.

Gunawan dan 14 orang anggota KTH Wana Lestari sudah menikmati hasil dari usaha budidaya lebah madu tersebut. 

Dengan 239 kotak koloni lebah madu yang mereka miliki, KTH Wana Lestari bisa menghasilkan 300 kg sampai 500 kg madu dalam rentang masa panen 15 sampai 20 hari. Ketika cuaca mendukung, kelompok tani bisa mendapat panenan yang lebih banyak.

KTH Wana Lestari memasarkan madu mereka melalui dua jalur. Mereka menjual madu ke KPH Lakitan Bukit Cogong dengan harga Rp50.000 per kg dan memasarkan madu langsung ke konsumen dengan harga Rp70.000 per kg.

Menurut Gunawan, usaha budidaya lebah madu membantu anggota kelompok yang kebanyakan petani sawit dan karet meningkatkan pendapatan.

"Dengan adanya kegiatan budidaya lebah madu ini kami tentu menambah hasil untuk kebutuhan sehari-hari," kata Gunawan, pria asal Jawa Tengah yang bertransmigrasi ke Musi Rawas tahun 1985.

"Kalau bisa dibandingkan dalam kurun waktu satu semester ini, dibanding pemasukan dari kelapa sawit ini tampaknya jauh lebih menguntungkan usaha lebah madu," katanya.

KTH Wana Lestari selanjutnya berencana mengembangkan usaha budidaya lebah madu dan memperluas pasar produk madu mereka yang saat ini masih terbatas.

​​​​​​​Gunawan berharap pemerintah dan instansi terkait lain membantu kelompok tani mengembangkan usaha serta memberikan pendampingan kepada pelaku usaha budidaya lebah madu, utamanya dalam pemasaran produk.

Selain di Musi Rawas, usaha budidaya lebah madu tanpa sengat juga dilakukan oleh kelompok-kelompok tani di wilayah Kalimantan, Sumatera, dan Papua untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari produk hasil hutan bukan kayu sekaligus mendukung upaya melindungi kawasan hutan.

Melalui pengembangan usaha budidaya lebah madu, pemerintah bisa mendorong berpartisipasi aktif warga dalam upaya pengelolaan kawasan konservasi sekaligus membantu masyarakat sekitar kawasan hutan meningkatkan kesejahteraan. ​​​​​​​

Oleh Prisca Triferna Violleta
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Sumber : www.antaranews.com

0   0

Ada pertanyaan mengenai pengalaman ini ? Diskusikan pada kolom komentar ini