Pemandangan via drone dari lokasi wisata Gunung Birah yang dikelola oleh KTH Gunung Birah, Kabupaten Tanah Laut, Kalsel, Rabu (6/3/2022) . ANTARA/HO. 

Lahan yang sudah ada cukup dan air dari gunung

Kab. Tanah Laut, Kalsel (ANTARA) - Hamparan sawah menyambut pengunjung yang datang ke Desa Telaga di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, menunjukkan pemandangan khas pedesaan dengan perbukitan di kejauhan yang dipenuhi pohon-pohon.

"Dulu tidak seperti ini, dulu itu gundul. Ditebang itu dulu buat buka lahan, ada yang terbakar," ujar Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Subur Makmur Abdul Basir, menunjuk pada perbukitan hijau di belakang desa.

Sebelum 2013, aksi pembakaran dan pemotongan pohon kerap terjadi di wilayah yang berada di Kecamatan Bajuin itu. Hutan lindung yang berada di kawasan desa kerap menjadi sasaran praktik ladang berpindah dan pembakaran disengaja untuk setelahnya menjadi lahan untuk sapi merumput.

Meski praktik itu telah berhenti dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, kebakaran lahan itu meninggalkan kesan tersendiri untuk Basir.

KTH Subur Makmur yang diketuainya sempat terdampak dalam kebakaran lahan di wilayah tersebut. Berdiri pada 2013, KTH itu sempat mati suri selama beberapa tahun sebelum kembali aktif pada 2017.

"Dulu itu sempat putus asa, jadi pas ada program penanaman kami sudah nanam di atas, tanaman buah waktu itu, sekalinya terbakar habis. Setelah itu putus asa," tuturnya.

Terbakarnya ribuan pohon yang mereka tanam itu sempat menurunkan semangat anggota KTH, kekecewaan yang membuat mereka sempat berhenti berusaha untuk memajukan berbagai usaha hasil hutan bukan kayu (HHBK).

Pada 2017, kelompok itu kembali bangkit setelah terjadi regenerasi anggota dan dengan binaan dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tanah Laut yang didukung Proyek Forest Investment Program 2 (FIP 2) atau Program Investasi Hutan Proyek 2 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Mendapat dukungan bantuan peralatan, KTH Subur Makmur kemudian mulai meluaskan usaha budidaya jamur tiram, madu kelulut dan madu cerana di lahan seluas 79 hektare yang menjadi wilayah kerja mereka. Dilakukan juga pengembangan produk turunan jamur seperti jamur krispi dan bakso jamur.

Masyarakat desa itu sebelumnya telah memiliki usaha jamur tiram dan madu kelulut, tapi bantuan dari KPH Tanah Laut dan FIP 2 mendorong perluasan budidaya termasuk adanya kumbung atau rumah budidaya jamur yang baru.

Hasilnya mulai terlihat dengan telah diproduksi 224,95 kilogram jamur tiram pada 2020 dan 311,65 kilogram jamur pada 2021 yang setiap kilogram dihargai Rp18.000. Dalam periode tersebut mereka menghasilkan pendapatan sekitar Rp4 juta dan Rp5 juta.

Sementara untuk produk turunan jamur seperti jamur krispi, atau jamur yang digoreng garing sebagai camilan, telah dihasilkan 85 kilogram pada 2021 dan 10 kilogram sampai Maret 2022. Harga jual untuk jamur krispi adalah Rp120.000 per kilogram.

Untuk jamur krispi telah dihasilkan Rp10,2 juta pada 2021 dan Rp1,2 juta pada tahun ini sampai Maret.


Anggota KTH Sumber Makmur memajang hasil panen jamur tiram KTH di Desa Telaga, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Rabu (3/6/2022) (ANTARA/Prisca Triferna)

Kini mereka juga telah memulai usaha penanaman kopi untuk mendorong diversifikasi produk dan membantu meningkatkan perekonomian anggota KTH, selain penghasilan utama mereka sebagai petani.

Adanya pengelolaan hutan lestari yang dilakukan oleh KTH Subur Makmur juga secara bertahap mengubah perilaku masyarakat untuk mulai menjaga hutan yang termasuk dalam kawasan lindung.

Sekarang penduduk setempat tidak lagi pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Bahkan, kata Basir, ketika hendak mengambil kayu kering, warga meminta izin kepada anggota KTH Subur Makmur.

Berkat pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS), gunung Katunun di dekat desa itu kembali menghijau. Yang tadinya dipenuhi alang-alang kini dipenuhi pepohonan, yang buahnya juga bisa dimanfaatkan untuk masyarakat.

Kembalinya perbukitan hijau di sekitar desa juga berdampak pada sumber mata air desa, termasuk untuk mengairi persawahan yang merupakan salah satu sumber mata pencaharian utama masyarakat.

“Tanah yang ada sudah cukup, dan airnya dari pegunungan. Semua kehidupan di sini menggunakan air pegunungan,” katanya.


Kepala KTH Gunung Bira H. Rosmani saat ditemui di Kawasan Wisata Gunung Bira di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Rabu (3/6/2022) (ANTARA/Prisca Triferna)

Perubahan perilaku

Dampak pengelolaan hutan lestari terhadap kehidupan masyarakat juga dirasakan oleh warga Desa Kandangan Lama, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut.

Usaha jasa lingkungan wisata alam yang dijalankan oleh KTH Gunung Birah telah berhasil mengubah pola pikir masyarakat bahwa alam tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk HHBK tetapi juga untuk wisata alam.

Ketua KTH Gunung Birah H. Rosmani mengatakan, inisiatif untuk memulai usaha jasa lingkungan muncul ketika sekelompok pecinta alam di desa itu melihat daerah lain di Tanah Laut memulai bisnis pariwisata.

Bahkan, Gunung Bira juga memiliki pemandangan yang indah dari ketinggian 367 meter di atas permukaan laut. Dari puncaknya, terlihat hamparan hutan, persawahan, dan laut, mengingat wilayahnya yang dekat dengan pesisir ujung Kalimantan Selatan.

Untuk dapat mengembangkan pariwisata ini, mereka menggalang dukungan dari masyarakat pedesaan, dimulai dari kelompok pemuda.

Mulai tahun 2017, untuk mendapatkan kepastian hukum dalam pemanfaatan kawasan hutan lindung, mereka mendapat arahan dari KPH Tanah Laut. Mereka juga menerima SK Perhutanan Sosial SK.8686/MENLHK PSKL/PKPS/PSL.0/12/2021 tahun 2021.

Gunung Bira sendiri dulunya merupakan lahan bergerak bagi penduduk setempat untuk bercocok tanam, yang mengakibatkan hilangnya tutupan vegetasi di perbukitan di sekitarnya.

Bergabungnya KPH Tanah Laut dimanfaatkan Rosmani dan anggotanya untuk mendorong sosialisasi pentingnya kelestarian alam dan lingkungan kepada masyarakat sekitar, khususnya yang terlibat dalam pertanian berpindah.

“Karena aliran air saat berpindah-pindah sini dan sekarang sangat sulit, alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, kami sudah beberapa tahun di sini, hampir tidak ada ladang yang bergeser, mereka sudah sadar,” katanya.

Menjadikan Gunung Bira sebagai destinasi wisata yang dikunjungi sekitar 9.700 wisatawan pada tahun 2019 sebelum pandemi, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Resmi berdiri pada tahun 2018, KTH Gunung Birah menghadapi tentangan dari sebagian masyarakat karena anggapan bahwa pariwisata identik dengan “kemaksiatan”.

Menghadapi hal tersebut, KTH mulai menjangkau salah satunya, mengalokasikan pendapatan dari jasa pariwisata untuk pengembangan masyarakat pedesaan dan madrasah di daerah tersebut.

Hal ini membuat masyarakat semakin terbuka dengan upaya yang dilakukan KTH Gunung Birah di lahan seluas 250 ha. Padahal, kini ada potensi lapangan kerja bagi masyarakat pedesaan, terutama pemuda dan warga yang berjualan saat ramai pengunjung.

Melalui layanan ekowisata tersebut, KTH Gunung Birah memperoleh Rp 146 juta pada 2020 dan Rp 69 juta dari penjualan tiket Rp 15.000 per orang dan penyewaan peralatan seperti tenda. Pada 2022, kunjungan wisatawan hingga Maret menghasilkan Rp 12,6 juta.

Mereka juga mengembangkan bisnis madu kelulat, termasuk yang bisa dinikmati langsung dari cobek, kopi, dan gula merah.

Meskipun kedatangan wisatawan, terutama dari Kalimantan Selatan dan provinsi tetangga Kalimantan Tengah, telah menurun karena pandemi menjadi 4.600 pada tahun 2021 dan 842 pada Maret 2022, ia percaya bahwa jumlah wisatawan akan meningkat karena kebijakan pandemi dilonggarkan. .

Dengan penguatan pemanfaatan jasa lingkungan yang didukung oleh KPH Tanah Laut dan KLHK melalui FIP 2 dan pemerintah setempat, ia berharap dapat berkontribusi bagi kemajuan anggota KTH Gunung Birah dan masyarakat sekitar.

Sumber : Mediaekonomi

cloud
cloud

KTH di Tanah Laut kelola hutan lestari untuk pulihkan lingkungan


blog

Pemandangan via drone dari lokasi wisata Gunung Birah yang dikelola oleh KTH Gunung Birah, Kabupaten Tanah Laut, Kalsel, Rabu (6/3/2022) . ANTARA/HO. 

Lahan yang sudah ada cukup dan air dari gunung

Kab. Tanah Laut, Kalsel (ANTARA) - Hamparan sawah menyambut pengunjung yang datang ke Desa Telaga di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, menunjukkan pemandangan khas pedesaan dengan perbukitan di kejauhan yang dipenuhi pohon-pohon.

"Dulu tidak seperti ini, dulu itu gundul. Ditebang itu dulu buat buka lahan, ada yang terbakar," ujar Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Subur Makmur Abdul Basir, menunjuk pada perbukitan hijau di belakang desa.

Sebelum 2013, aksi pembakaran dan pemotongan pohon kerap terjadi di wilayah yang berada di Kecamatan Bajuin itu. Hutan lindung yang berada di kawasan desa kerap menjadi sasaran praktik ladang berpindah dan pembakaran disengaja untuk setelahnya menjadi lahan untuk sapi merumput.

Meski praktik itu telah berhenti dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, kebakaran lahan itu meninggalkan kesan tersendiri untuk Basir.

KTH Subur Makmur yang diketuainya sempat terdampak dalam kebakaran lahan di wilayah tersebut. Berdiri pada 2013, KTH itu sempat mati suri selama beberapa tahun sebelum kembali aktif pada 2017.

"Dulu itu sempat putus asa, jadi pas ada program penanaman kami sudah nanam di atas, tanaman buah waktu itu, sekalinya terbakar habis. Setelah itu putus asa," tuturnya.

Terbakarnya ribuan pohon yang mereka tanam itu sempat menurunkan semangat anggota KTH, kekecewaan yang membuat mereka sempat berhenti berusaha untuk memajukan berbagai usaha hasil hutan bukan kayu (HHBK).

Pada 2017, kelompok itu kembali bangkit setelah terjadi regenerasi anggota dan dengan binaan dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tanah Laut yang didukung Proyek Forest Investment Program 2 (FIP 2) atau Program Investasi Hutan Proyek 2 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Mendapat dukungan bantuan peralatan, KTH Subur Makmur kemudian mulai meluaskan usaha budidaya jamur tiram, madu kelulut dan madu cerana di lahan seluas 79 hektare yang menjadi wilayah kerja mereka. Dilakukan juga pengembangan produk turunan jamur seperti jamur krispi dan bakso jamur.

Masyarakat desa itu sebelumnya telah memiliki usaha jamur tiram dan madu kelulut, tapi bantuan dari KPH Tanah Laut dan FIP 2 mendorong perluasan budidaya termasuk adanya kumbung atau rumah budidaya jamur yang baru.

Hasilnya mulai terlihat dengan telah diproduksi 224,95 kilogram jamur tiram pada 2020 dan 311,65 kilogram jamur pada 2021 yang setiap kilogram dihargai Rp18.000. Dalam periode tersebut mereka menghasilkan pendapatan sekitar Rp4 juta dan Rp5 juta.

Sementara untuk produk turunan jamur seperti jamur krispi, atau jamur yang digoreng garing sebagai camilan, telah dihasilkan 85 kilogram pada 2021 dan 10 kilogram sampai Maret 2022. Harga jual untuk jamur krispi adalah Rp120.000 per kilogram.

Untuk jamur krispi telah dihasilkan Rp10,2 juta pada 2021 dan Rp1,2 juta pada tahun ini sampai Maret.


Anggota KTH Sumber Makmur memajang hasil panen jamur tiram KTH di Desa Telaga, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Rabu (3/6/2022) (ANTARA/Prisca Triferna)

Kini mereka juga telah memulai usaha penanaman kopi untuk mendorong diversifikasi produk dan membantu meningkatkan perekonomian anggota KTH, selain penghasilan utama mereka sebagai petani.

Adanya pengelolaan hutan lestari yang dilakukan oleh KTH Subur Makmur juga secara bertahap mengubah perilaku masyarakat untuk mulai menjaga hutan yang termasuk dalam kawasan lindung.

Sekarang penduduk setempat tidak lagi pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Bahkan, kata Basir, ketika hendak mengambil kayu kering, warga meminta izin kepada anggota KTH Subur Makmur.

Berkat pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS), gunung Katunun di dekat desa itu kembali menghijau. Yang tadinya dipenuhi alang-alang kini dipenuhi pepohonan, yang buahnya juga bisa dimanfaatkan untuk masyarakat.

Kembalinya perbukitan hijau di sekitar desa juga berdampak pada sumber mata air desa, termasuk untuk mengairi persawahan yang merupakan salah satu sumber mata pencaharian utama masyarakat.

“Tanah yang ada sudah cukup, dan airnya dari pegunungan. Semua kehidupan di sini menggunakan air pegunungan,” katanya.


Kepala KTH Gunung Bira H. Rosmani saat ditemui di Kawasan Wisata Gunung Bira di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Rabu (3/6/2022) (ANTARA/Prisca Triferna)

Perubahan perilaku

Dampak pengelolaan hutan lestari terhadap kehidupan masyarakat juga dirasakan oleh warga Desa Kandangan Lama, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut.

Usaha jasa lingkungan wisata alam yang dijalankan oleh KTH Gunung Birah telah berhasil mengubah pola pikir masyarakat bahwa alam tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk HHBK tetapi juga untuk wisata alam.

Ketua KTH Gunung Birah H. Rosmani mengatakan, inisiatif untuk memulai usaha jasa lingkungan muncul ketika sekelompok pecinta alam di desa itu melihat daerah lain di Tanah Laut memulai bisnis pariwisata.

Bahkan, Gunung Bira juga memiliki pemandangan yang indah dari ketinggian 367 meter di atas permukaan laut. Dari puncaknya, terlihat hamparan hutan, persawahan, dan laut, mengingat wilayahnya yang dekat dengan pesisir ujung Kalimantan Selatan.

Untuk dapat mengembangkan pariwisata ini, mereka menggalang dukungan dari masyarakat pedesaan, dimulai dari kelompok pemuda.

Mulai tahun 2017, untuk mendapatkan kepastian hukum dalam pemanfaatan kawasan hutan lindung, mereka mendapat arahan dari KPH Tanah Laut. Mereka juga menerima SK Perhutanan Sosial SK.8686/MENLHK PSKL/PKPS/PSL.0/12/2021 tahun 2021.

Gunung Bira sendiri dulunya merupakan lahan bergerak bagi penduduk setempat untuk bercocok tanam, yang mengakibatkan hilangnya tutupan vegetasi di perbukitan di sekitarnya.

Bergabungnya KPH Tanah Laut dimanfaatkan Rosmani dan anggotanya untuk mendorong sosialisasi pentingnya kelestarian alam dan lingkungan kepada masyarakat sekitar, khususnya yang terlibat dalam pertanian berpindah.

“Karena aliran air saat berpindah-pindah sini dan sekarang sangat sulit, alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, kami sudah beberapa tahun di sini, hampir tidak ada ladang yang bergeser, mereka sudah sadar,” katanya.

Menjadikan Gunung Bira sebagai destinasi wisata yang dikunjungi sekitar 9.700 wisatawan pada tahun 2019 sebelum pandemi, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Resmi berdiri pada tahun 2018, KTH Gunung Birah menghadapi tentangan dari sebagian masyarakat karena anggapan bahwa pariwisata identik dengan “kemaksiatan”.

Menghadapi hal tersebut, KTH mulai menjangkau salah satunya, mengalokasikan pendapatan dari jasa pariwisata untuk pengembangan masyarakat pedesaan dan madrasah di daerah tersebut.

Hal ini membuat masyarakat semakin terbuka dengan upaya yang dilakukan KTH Gunung Birah di lahan seluas 250 ha. Padahal, kini ada potensi lapangan kerja bagi masyarakat pedesaan, terutama pemuda dan warga yang berjualan saat ramai pengunjung.

Melalui layanan ekowisata tersebut, KTH Gunung Birah memperoleh Rp 146 juta pada 2020 dan Rp 69 juta dari penjualan tiket Rp 15.000 per orang dan penyewaan peralatan seperti tenda. Pada 2022, kunjungan wisatawan hingga Maret menghasilkan Rp 12,6 juta.

Mereka juga mengembangkan bisnis madu kelulat, termasuk yang bisa dinikmati langsung dari cobek, kopi, dan gula merah.

Meskipun kedatangan wisatawan, terutama dari Kalimantan Selatan dan provinsi tetangga Kalimantan Tengah, telah menurun karena pandemi menjadi 4.600 pada tahun 2021 dan 842 pada Maret 2022, ia percaya bahwa jumlah wisatawan akan meningkat karena kebijakan pandemi dilonggarkan. .

Dengan penguatan pemanfaatan jasa lingkungan yang didukung oleh KPH Tanah Laut dan KLHK melalui FIP 2 dan pemerintah setempat, ia berharap dapat berkontribusi bagi kemajuan anggota KTH Gunung Birah dan masyarakat sekitar.

Sumber : Mediaekonomi

0   0
Bagikan :

Ada pertanyaan mengenai pengalaman ini ? Diskusikan pada kolom komentar ini