Penulis: Erna Dwi Lidiawati

Keyword Foto:(kph tanggunung) Berdayakan petani Hutan lewat Program Investasi Hutan Proyek II dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan dukungan World Bank dan Danida, Rabu (29/3/2022) 

Parigi Moutong, KOMPAs.com -Aktifitas masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Toata Mandiri di Desa Olobaru, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Selasa (29/3/2021) mulai terlihat. 

Kelompok tani binaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Dolago Tanggunung ini mulai menyiapkan peralatan untuk proses pembuatan dampo durian. 

Sebuah wajan besar diletakan diatas api, kemudian gula aren yang sudah dicairkan dimasukan ke dalam  wajan. Setelah mendidih, barulah daging durian dimasukan ke dalam wajan. Dan diaduk hingga kadar airnya berkurang. 

Suara adukan di atas penggorengan terdengar beraturan. Untuk mengaduknya anggota Toata Mandiri melakukanya secara  bergantian. Jumlah anggota Toata Mandiri sebanyak 16 orang. 

Menurut Ketua KTH Toata Mandiri, Sarman L Jimpolo, untuk membuat dampo durian tidak sulit. 
Pertama  buah durian dipisahkan dari kulit dan bijinya. Setelah itu masukkan daging duriannya ke dalam larutan gula aren yang telah disaring sebelumnya. 

"Kasih mendidih dulu gula aren  lyang sudah kita saring tadi. Setelah itu masukan buah duriannya,  kemudian diaduk terus selama dua jam lebih sampai kadar airnya berkurang," jelas Sarman, Selasa (29/3/2022). 

Ia mengatakan banyaknya gula aren  yang digunakan dalam pembuatan dampo durian ini, tergantung berapa banyak durian yang akan  diolah menjadi dampo. Jika daging durian yg digunakan 2 kilogram, maka gula arennya sebanyak 1 kilogram. Begitu seterusnya. 

Selain dampo durian, KTH Toata Mandiri juga menyediakan daging durian kupas yang siap dimakan tanpa takut terkena duri kulit durian. Daging durian itu mereka kemas di kotak plastik dengan berat masing-masing 1 kilogram. 
Sarman L Jimpolo mengakui jika produk dari KTH Toata Mandiri ini masih jauh dari  sempurna. 

"Kita bermasalah dipemasaran. Produk yang kita kembangkan ini tidak menggunakan bahan pengawet,. Bisanya bertahan kurang dari 1 minggu pada suhu ruangan. Tapi kalau disimpan di lemari pendingin bisa bertahan agak lama, " kata Sarman. 

Kendala lainnya adanya pandemi Covid-19. Saat pandemi usaha pembuatan dampo durian dan durian kupas menurun.  

Sementara untuk pemasarannya saat ini masih lokal dan masih skala kecil. Namun begitu mereka tetap bersemangat untuk meningkatkan produksinya. 

KTH Toata Mandiri merupakan salah satu dari 10 KTH di Sulawesi Tengah yang mendapat dukungan dari Proyek Forest Investment Program 2 (FIP 2) atau Program Investasi Hutan Proyek II dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan dukungan World Bank dan Danida.  KTH Toata Mandiri merupakan salah satu yang mendapat bantuan investasi dari proyek FIP 2 untuk meningkatkan produk dan skala bisnisnya menuju kemandirian bisnis KTH. 
 
Menurut Direktur Bina Rencana Pemanfaatan Hutan KLHK selaku Executing Agency (EA),  Program Proyek FIP 2 bertujuan untuk mendukung program pembangunan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan pemberdayaan masyarakat melalui strategi peningkatan kapasitas kelembagaan KPH dalam pengelolaan hutan lestari, dan pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan usaha masyarakat berbasis hutan.  

“Proyek ini telah menstimulus geliat ekonomi masyarakat sekitar hutan yang terlibat dalam proyek, sehingga kesejahteraan mereka meningkat dibandingkan sebelum terlibat dalam program”, kata  Drasospolino. 

Menurutnya Proyek FIP 2 telah dilaksanakan di 10 wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang tersebar di 8 provinsi dan telah bermitra dengan 95 Kelompok Tani Hutan (KTH) terseleksi yang memiliki usaha berbasis hutan. Ke-95 KTH ini mendapat bantuan investasi dari proyek FIP 2 untuk meningkatkan produk dan skala bisnisnya menuju kemandirian bisnis KTH. 

Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem dan Pemberdayaan Masyarakat, Armin Bani mengatakan dengan adanya proyek FIP 2 ini diharapkan tidak ada lagi pembalakan  hutan. 

"Ini merupakan strategi, Dengan adanya proyek FIP 2 ini pembalakan diharapkan tak terjadi lagi," kata Armin, (K68-12)

Keterangan Foto : Kelompok Tani Hutan (KTH) Toata Mandiri, Desa Olobaru, Kecamatan Parigi Selatan, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, produksi dampo/dodol durian durian lokal, Selasa (29/3/2022).

 

cloud
cloud

Cegah Pembalakan, KPH Dolago Tanggunung Berdayakan Masyarakat Sekitar Hutan Dengan Dukungan FIP 2


blog

Penulis: Erna Dwi Lidiawati

Keyword Foto:(kph tanggunung) Berdayakan petani Hutan lewat Program Investasi Hutan Proyek II dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan dukungan World Bank dan Danida, Rabu (29/3/2022) 

Parigi Moutong, KOMPAs.com -Aktifitas masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Toata Mandiri di Desa Olobaru, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Selasa (29/3/2021) mulai terlihat. 

Kelompok tani binaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Dolago Tanggunung ini mulai menyiapkan peralatan untuk proses pembuatan dampo durian. 

Sebuah wajan besar diletakan diatas api, kemudian gula aren yang sudah dicairkan dimasukan ke dalam  wajan. Setelah mendidih, barulah daging durian dimasukan ke dalam wajan. Dan diaduk hingga kadar airnya berkurang. 

Suara adukan di atas penggorengan terdengar beraturan. Untuk mengaduknya anggota Toata Mandiri melakukanya secara  bergantian. Jumlah anggota Toata Mandiri sebanyak 16 orang. 

Menurut Ketua KTH Toata Mandiri, Sarman L Jimpolo, untuk membuat dampo durian tidak sulit. 
Pertama  buah durian dipisahkan dari kulit dan bijinya. Setelah itu masukkan daging duriannya ke dalam larutan gula aren yang telah disaring sebelumnya. 

"Kasih mendidih dulu gula aren  lyang sudah kita saring tadi. Setelah itu masukan buah duriannya,  kemudian diaduk terus selama dua jam lebih sampai kadar airnya berkurang," jelas Sarman, Selasa (29/3/2022). 

Ia mengatakan banyaknya gula aren  yang digunakan dalam pembuatan dampo durian ini, tergantung berapa banyak durian yang akan  diolah menjadi dampo. Jika daging durian yg digunakan 2 kilogram, maka gula arennya sebanyak 1 kilogram. Begitu seterusnya. 

Selain dampo durian, KTH Toata Mandiri juga menyediakan daging durian kupas yang siap dimakan tanpa takut terkena duri kulit durian. Daging durian itu mereka kemas di kotak plastik dengan berat masing-masing 1 kilogram. 
Sarman L Jimpolo mengakui jika produk dari KTH Toata Mandiri ini masih jauh dari  sempurna. 

"Kita bermasalah dipemasaran. Produk yang kita kembangkan ini tidak menggunakan bahan pengawet,. Bisanya bertahan kurang dari 1 minggu pada suhu ruangan. Tapi kalau disimpan di lemari pendingin bisa bertahan agak lama, " kata Sarman. 

Kendala lainnya adanya pandemi Covid-19. Saat pandemi usaha pembuatan dampo durian dan durian kupas menurun.  

Sementara untuk pemasarannya saat ini masih lokal dan masih skala kecil. Namun begitu mereka tetap bersemangat untuk meningkatkan produksinya. 

KTH Toata Mandiri merupakan salah satu dari 10 KTH di Sulawesi Tengah yang mendapat dukungan dari Proyek Forest Investment Program 2 (FIP 2) atau Program Investasi Hutan Proyek II dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan dukungan World Bank dan Danida.  KTH Toata Mandiri merupakan salah satu yang mendapat bantuan investasi dari proyek FIP 2 untuk meningkatkan produk dan skala bisnisnya menuju kemandirian bisnis KTH. 
 
Menurut Direktur Bina Rencana Pemanfaatan Hutan KLHK selaku Executing Agency (EA),  Program Proyek FIP 2 bertujuan untuk mendukung program pembangunan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan pemberdayaan masyarakat melalui strategi peningkatan kapasitas kelembagaan KPH dalam pengelolaan hutan lestari, dan pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan usaha masyarakat berbasis hutan.  

“Proyek ini telah menstimulus geliat ekonomi masyarakat sekitar hutan yang terlibat dalam proyek, sehingga kesejahteraan mereka meningkat dibandingkan sebelum terlibat dalam program”, kata  Drasospolino. 

Menurutnya Proyek FIP 2 telah dilaksanakan di 10 wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang tersebar di 8 provinsi dan telah bermitra dengan 95 Kelompok Tani Hutan (KTH) terseleksi yang memiliki usaha berbasis hutan. Ke-95 KTH ini mendapat bantuan investasi dari proyek FIP 2 untuk meningkatkan produk dan skala bisnisnya menuju kemandirian bisnis KTH. 

Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem dan Pemberdayaan Masyarakat, Armin Bani mengatakan dengan adanya proyek FIP 2 ini diharapkan tidak ada lagi pembalakan  hutan. 

"Ini merupakan strategi, Dengan adanya proyek FIP 2 ini pembalakan diharapkan tak terjadi lagi," kata Armin, (K68-12)

Keterangan Foto : Kelompok Tani Hutan (KTH) Toata Mandiri, Desa Olobaru, Kecamatan Parigi Selatan, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, produksi dampo/dodol durian durian lokal, Selasa (29/3/2022).

 

0   0

Ada pertanyaan mengenai pengalaman ini ? Diskusikan pada kolom komentar ini